Sedikit melegakan

21.04

"Dia datang lagi. Barusan.
Coba tebak, kali ini di lagi buntu atau butuh rekomendasi itu?"


"Haha kamu sudah jatuh dalam pesona ya.
Kalau memang nyaman jangan terlalu dingin balasnya."

"Dia nanyain kabar. Aku takut kalau selalu welcome sama kedatangannya,
yang ada nanti dia jadi makin seenaknya sendiri pulang pergi di kehidupanku"

"Dia pergi, karena merasa kedatangannya sedikit banyak tidak diharapkan.
Kenapa gitu? Karena gadis yang diharap bisa menyambutnya,
bersikap dingin dan acuh"

"Ah kamu..........."

"Jangan merasa sakit kalau dia menyakitimu.
Karena sesungguhnya awal dari kesakitan itu bermula dari kalian berdua sendiri."

"Munculnya kesakitan itu berasal dari bodohnya gadis yang terpancing.
Sudah berulang kali diperingatkan sahabatnya,
ia tetap bengal dan tak mau mendengar."

"Tidak mau mendengar. Karena ia merasakan.
Setiap jantung berdetak, pasti memiliki misteri baru.
Kalau laki-laki itu memang playboy, mungkin didetak jantung berikutnya, ia akan setia.
Bersama gadis yang mungkin sedang didekatinya."

"Siapapun gadis yang didekatinya, ia pasti beruntung karna sudah diberi perhatian
sepersekian minggu. Tetapi ia juga harus menyiapkan benteng untuk
tempat persembunyiannya, kelak jika sang pangeran telah pergi untuk merasakan
kesenangan dengan gadis lain. Menangislah disana."

"Pangeran itu pasti akan pergi. Tak akan ada yang memungkiri.
Gadis itu juga telah bersiap. Saat ini, gadis itu hanya perlu mewarnai hari yang tersisa.
Agar kelak kala masa berpisah,
meninggalkan secercah kenangan yang indah dan bahagia."

"Ya. Kesiapan gadis itu benar-benar sudah diperhatikan.
Diam-diam ia menyiapkannya sejak alam bawah sadarnya mengingatkan
bawah lagi-lagi ia terjebak dilubang yang sama.
Singkat kata, gadis itu mudah terlena."

"Nikmati saja sensaninya selagi bisa.
Kalau gadis itu berpikir sang pangeran mempermainkannya,
buatlah semua mudah. Jalani dan nikmati."

"Terimakasih *peluk erat"

"Untuk apa?
Kalau misal kamu pengen banget naik tornado karena penasaran sama sensasinya
 tapi sebenarnya karena takut ketinggian. Apa yang kamu lakukan? Tetap naik?
Atau milih nyari permainan lain?"

"Tetap naik. Kalau penasaranku sudah terbayar apapun aku lakuin, dan untuk
urusan respon muntah atau apalah itu jadi nomer kesekian.
Setiap permainan punya sensasi yang berbeda-beda."

"Tuh udah ada jawabannya. Sekalipun kamu takut dikecawain,
kamu harus tetep berani ngalahin takut itu. Masalah sakit hati, urusan nanti.
Yang penting, kamu jalani dulu yang sekarang. Itu kan jawabanmu? :)"

24-01.
Sidoarjo setelah diguyur hujan deras.

You Might Also Like

0 komentar