Sepucuk Surat Untuk Anakku Nanti
12.16
Sabtu, 26 September 2015
02.05
Sayangku, mungkin ini terlalu dini...
Bukan bermaksud sudah lelah dari semua hiruk pikuk perkuliahan di tahun kedua ini.
Bukan sedang dalam keadaan ingin menyudahi semua kepadatan yang dijalani hari ke hari.
Ini adalah surat pertamaku, untukmu.
Sayangku, tahukah kamu bahwa Ibu baru saja menyelesaikan tugas di perkuliahan hingga selarut ini?
Bisa dikatakan Ibu sedang belajar menjalankan sebuah amanah, sejauh mana Ibu akan bisa mengemban sebuah tanggung jawab. Baik dari hal yang sepele pun yang terhitung sangat penting.
Setidaknya Ibu kini belajar memupuk bibit tanggung jawab untuk bagaimana cara mengurus, membesarkanmu dan menjagamu ketika kau sedang tak bisa tidur di satu malam ataupun ketika kau sedang merasa sakit hingga harus menjagamu sampai selarut mungkin pada suatu hari nanti.
Sayangku, tahukah kamu bahwa cita-cita Ibu sejak kecil selalu berkaitan dengan seorang anak?
Semasa berseragam merah putih, Ibu ingin menjadi seorang dokter anak. Semasa berseragam putih biru, Ibu ingin menjadi seorang psikolog anak. Semasa berseragam putih abu-abu, Ibu ingin menjadi seorang Guru Sekolah Dasar. Namun nasib berkata lain, kini Ibu telah mendalami ilmu ekonomi.
Bayang-bayang menjadi tenaga pengajar pun kandas.
Setidaknya pilihlah Ibu untuk menjadi guru pribadimu. Ibu akan mengajari sekuat dan secerdas mungkin untuk mendidikmu menjadi anak yang berbudi lagi berakhlak baik. Belajarlah nak, jadilah orang pandai. Agar kau bermanfaat untuk orang-orang di sekitarmu pada suatu hari nanti.
Tahukah kau anakku, ketika tulisan ini diam-diam mendikte pikiran. Yang terpikirkan bukan hanya dirimu, tetapi juga Ibu dari Ibumu ini. Beliau adalah sosok yang sangat tangguh, penuh kasih sayang, berprinsip tinggi dan berideologi kuat. Tek jemunya ia untuk mengajarkan betapa pentingnya agama serta hal-hal kecil seperti mengucap maaf, tolong, dan terima kasih kepada orang lain. Beliau sosok yang akan marah ketika anaknya lalai dalam sholatnya. Beliau sosok yang akan merasa paling sedih ketika anaknya dalam keadaan terpuruk sekaligus paling bahagia ketika kabar baik dari sebuah prestasi yang diterimanya. Kelak sosok yang sedemikian itulah yang ingin Ibu teladani.
Anakku, sebelum kita sempat bertemu izinkan Ibu untuk mengucap terima kasih kepadamu. Sosokmu yang baru sebatas bayang-bayang di pikiran mengajarkanku untuk selalu mengucap syukur dan berjuang demi menghasilkan segala sesuatu yang terbaik.
Pertama untuk Ibu yang sudah membesarkan Ibumu dan kedua itu untuk motivasimu.
Agar kelak, nanti Ibu bisa dengan bangganya menceritakan pencapaian apa saja yang sudah diraih. Tak kelak agar kau menjadi seorang anak yang membanggakan bagi kedua orang tuamu.
Sayangku, izinkan Ibu untuk berkonsentrasi dengan pendidikan ini. Mungkin lima atau enam tahun dari sekarang Ibu baru bisa bertemu dengan ayahmu. Ayah yang dengan kerendahan hatinya menerima kekurangan dan kelebihan Ibu, dengan segala jerih payahnya rela membangun masa depan bersama Ibu dan menjadikan pelukan anak Ibu sebagai obat penghilang lelah paling mujarab setelah ia pulang bekerja.
Mungkin ini hanya menjadi pesan kosong yang belum dibaca penerimanya. Namun ketahuilah sayangku, aku sangat menyayangimu jauh sebelum kau ada di dunia dan bahkan belum menemui sesosok calon ayahmu saat ini.
Salam sayang untukmu.
02.05
Sayangku, mungkin ini terlalu dini...
Bukan bermaksud sudah lelah dari semua hiruk pikuk perkuliahan di tahun kedua ini.
Bukan sedang dalam keadaan ingin menyudahi semua kepadatan yang dijalani hari ke hari.
Ini adalah surat pertamaku, untukmu.
Sayangku, tahukah kamu bahwa Ibu baru saja menyelesaikan tugas di perkuliahan hingga selarut ini?
Bisa dikatakan Ibu sedang belajar menjalankan sebuah amanah, sejauh mana Ibu akan bisa mengemban sebuah tanggung jawab. Baik dari hal yang sepele pun yang terhitung sangat penting.
Setidaknya Ibu kini belajar memupuk bibit tanggung jawab untuk bagaimana cara mengurus, membesarkanmu dan menjagamu ketika kau sedang tak bisa tidur di satu malam ataupun ketika kau sedang merasa sakit hingga harus menjagamu sampai selarut mungkin pada suatu hari nanti.
Sayangku, tahukah kamu bahwa cita-cita Ibu sejak kecil selalu berkaitan dengan seorang anak?
Semasa berseragam merah putih, Ibu ingin menjadi seorang dokter anak. Semasa berseragam putih biru, Ibu ingin menjadi seorang psikolog anak. Semasa berseragam putih abu-abu, Ibu ingin menjadi seorang Guru Sekolah Dasar. Namun nasib berkata lain, kini Ibu telah mendalami ilmu ekonomi.
Bayang-bayang menjadi tenaga pengajar pun kandas.
Setidaknya pilihlah Ibu untuk menjadi guru pribadimu. Ibu akan mengajari sekuat dan secerdas mungkin untuk mendidikmu menjadi anak yang berbudi lagi berakhlak baik. Belajarlah nak, jadilah orang pandai. Agar kau bermanfaat untuk orang-orang di sekitarmu pada suatu hari nanti.
Tahukah kau anakku, ketika tulisan ini diam-diam mendikte pikiran. Yang terpikirkan bukan hanya dirimu, tetapi juga Ibu dari Ibumu ini. Beliau adalah sosok yang sangat tangguh, penuh kasih sayang, berprinsip tinggi dan berideologi kuat. Tek jemunya ia untuk mengajarkan betapa pentingnya agama serta hal-hal kecil seperti mengucap maaf, tolong, dan terima kasih kepada orang lain. Beliau sosok yang akan marah ketika anaknya lalai dalam sholatnya. Beliau sosok yang akan merasa paling sedih ketika anaknya dalam keadaan terpuruk sekaligus paling bahagia ketika kabar baik dari sebuah prestasi yang diterimanya. Kelak sosok yang sedemikian itulah yang ingin Ibu teladani.
Anakku, sebelum kita sempat bertemu izinkan Ibu untuk mengucap terima kasih kepadamu. Sosokmu yang baru sebatas bayang-bayang di pikiran mengajarkanku untuk selalu mengucap syukur dan berjuang demi menghasilkan segala sesuatu yang terbaik.
Pertama untuk Ibu yang sudah membesarkan Ibumu dan kedua itu untuk motivasimu.
Agar kelak, nanti Ibu bisa dengan bangganya menceritakan pencapaian apa saja yang sudah diraih. Tak kelak agar kau menjadi seorang anak yang membanggakan bagi kedua orang tuamu.
Sayangku, izinkan Ibu untuk berkonsentrasi dengan pendidikan ini. Mungkin lima atau enam tahun dari sekarang Ibu baru bisa bertemu dengan ayahmu. Ayah yang dengan kerendahan hatinya menerima kekurangan dan kelebihan Ibu, dengan segala jerih payahnya rela membangun masa depan bersama Ibu dan menjadikan pelukan anak Ibu sebagai obat penghilang lelah paling mujarab setelah ia pulang bekerja.
Mungkin ini hanya menjadi pesan kosong yang belum dibaca penerimanya. Namun ketahuilah sayangku, aku sangat menyayangimu jauh sebelum kau ada di dunia dan bahkan belum menemui sesosok calon ayahmu saat ini.
Salam sayang untukmu.

0 komentar